Lampau
Lampau bukan lampu yang setia menerangi malam-malammuterkadang ia begitu pekat tertanam di hatimu
pekatnya lebih hitam dari malam tanggal muda hijriah
lebih hitam dari jelaga di balik bokong panci dan wajan ibumu
yang dipakainya membuatkanmu sarapan, saat kecil dulu
yang aromanya membuatmu kerap rindu rumah
Lampau tak akan tergerus langkah
ia senantiasa berada di sudut ingatan
dalam kotak yang ingin dipaksa lupa
tapi tak bisa
Lampau akan terus bernarasi di otakmu
seringnya, ia merupa bayang-bayang
tentang sakit yang teramat
atau tawa yang hangat
bukan hal biasa
seperti apakah kemarin pagi kamu bernapas begitu dalam
atau biasa saja
saat bangun tidur
atau seperti
apa yang pertama kali kamu pegang saat bangun tidur kemarin lusa
Lampau
Terkadang warna-warni
seperti pelangi
yang sejenak ada, membuat kita tersenyum dan tertawa
lalu pergi entah ke mana
dan tak jarang, ia hilang ketika hendak dikenang
Lampau adalah tentang kisah-kisah
yang terlihat
terdengar
terrasakan
terbaui
dan tak jarang
tertangisi
terperingati
Lampau yang pekat butuh obat
semacam rasa ikhlas
sebab yang telah terlewat, telah lekat
pada garis waktu, tak bisa berulang diserat
Lampau pelangi perlu dirawat
sebab ia membawa bibit-bibit hangat
sebagai penguat
saat jejakmu yang lemah telah bertumpu pada tongkat.
Arkian Kiran A
Malang, 12 Mei 2018
Komentar
Posting Komentar